SELAMAT DATANG DI BLOG GALERI NASIONAL INDONESIA

Kepala Galeri Nasional Indonesia

Kepala Galeri Nasional Indonesia
Drs. Tubagus "Andre" Sukmana, M.iKom ( Galeri Nasional Indonesia merupakan salah satu lembaga museum khusus dan pusat kegiatan seni rupa yang bertujuan untuk melindungi, mengembangkan dan memanfaatkan koleksi seni rupa sebagai sarana edukatif-kultural dan rekreasi, serta sebagai media peningkatan kreativitas dan apresiasi seni. Lembaga ini diresmikan pada tanggal 8 Mei 1989. Saat ini bernaung dibawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Berlokasi dipusat Ibukota yang berdekatan dengan Monumen Nasional, Museum Nasional, Perpustakaan Nasional, Istana Negara, Masjid Istiqlal, Gereja Emmanuel serta Stasiun kereta Api Gambir. Tepatnya terletak di Jalan Medan Merdeka timur No. 14 Jakarta Pusat.)

Translate

Senin, 26 Mei 2014

SEJARAH SENI RUPA INDONESIA Oleh: Rany Martha Rullah

"SEJARAH SENI RUPA INDONESIA

Jauh sebelum dimulai perhitungan tahun masehi, dibeberapa tempat di daerah timur sudah memperlihatkan suatu kebudayaan yang bermutu tinggi. Dan sangat berpengaruh baik di timur maupun di daerah barat. Kesenian timur pada awal perkembangannya berpusat di Mesir, Mesopotamia dan India (lembah sungai Indus). Ketiga daerah ini menampilkan bentuk seni yang memiliki ciri khas masing – masing sesuai dengan kepercayaan, pandangan hidup dan tradisinya.
            Secara historis, seni rupa sangat terkait dengan gambar. Peninggalan-peninggalan prasejarah memperlihatkan bahwa sejak ribuan tahun yang lalu, nenek moyang manusia telah mulai membuat gambar pada dinding-dinding gua untuk mencitrakan bagian-bagian penting dari kehidupan. Sebuah lukisan atau gambar bisa dibuat hanya dengan menggunakan materi yang sederhana seperti arang, kapur, atau bahan lainnya.
Salah satu teknik terkenal gambar prasejarah yang dilakukan orang-orang gua adalah dengan menempelkan tangan di dinding gua, lalu menyemburnya dengan kunyahan dedaunan atau batu mineral berwarna. Hasilnya adalah jiplakan tangan berwana-warni di dinding-dinding gua yang masih bisa dilihat hingga saat ini. Kemudahan ini memungkinkan gambar (dan selanjutnya lukisan) untuk berkembang lebih cepat daripada cabang seni rupa lain seperti seni patung dan seni keramik.
Objek yang sering muncul dalam karya-karya purbakala adalah manusia, binatang, dan objek-objek alam lain seperti pohon, bukit, gunung, sungai, dan laut. Bentuk dari objek yang digambar tidak selalu serupa dengan aslinya. Ini disebut citra dan itu sangat dipengaruhi oleh pemahaman si pelukis terhadap objeknya. Misalnya, gambar seekor banteng dibuat dengan proporsi tanduk yang luar biasa besar dibandingkan dengan ukuran tanduk asli. Pencitraan ini dipengaruhi oleh pemahaman si pelukis yang menganggap tanduk adalah bagian paling mengesankan dari seekor banteng. Karena itu, citra mengenai satu macam objek menjadi berbeda-beda tergantung dari pemahaman budaya masyarakat di daerahnya.
Pada satu titik, ada orang-orang tertentu dalam satu kelompok masyarakat prasejarah yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk menggambar daripada mencari makanan. Mereka mulai mahir membuat gambar dan mulai menemukan bahwa bentuk dan susunan rupa tertentu, bila diatur sedemikian rupa, akan nampak lebih menarik untuk dilihat daripada biasanya. Mereka mulai menemukan semacam cita-rasa keindahan dalam kegiatannya dan terus melakukan hal itu sehingga mereka menjadi semakin ahli. Mereka adalah seniman-seniman yang pertama di muka bumi dan pada saat itulah kegiatan menggambar dan melukis mulai condong menjadi kegiatan seni.
Dalam dunia seni, seni rupa terbukti berdaya guna dan bertepat guna sebagai salah satu sarana kreatifitas dan sarana komunikasi. Dalam kaitan inilah seni rupa prasejarah Indonesia  harus dipelajari. Judul makalah ini sengaja dipilih karena menarik perhatian penulis untuk dicermati dan perlu mendapat dukungan dari semua pihak yang peduli terhadap seni rupa prasejarah Indonesia.

A. Seni Rupa Prasejarah
Zaman prasejarah (Prehistory) adalah jaman sebelum ditemukan sumber – sumber atau dokumen – dokumen tertulis mengenai kehidupan manusia. Latar belakang kebudayaannya berasal dari kebudayaan Indonesia yang disebarkan oleh bangsa Melayu Tua dan Melayu Muda. Agama asli pada waktu itu animisme dan dinamisme yang melahirkan bentuk kesenian sebagai media upacara (bersifat simbolisme).
a. Seni Bangunan
Manusia phaleolithikum belum meiliki tempat tinggal tetap, mereka hidup mengembara (nomaden) dan berburu atau mengumpulkan makanan (food gathering). Tanda – tanda adanya karya seni rupa dimulai dari jaman Mesolitik. Mereka sudah memiliki tempat tinggal di goa – goa. Seperti goa yang ditemukan di di Sulawesi Selatan dan Irian Jaya yang dimana pada dinding goa-goa tersebut terdapat berbagai macam gambar tentang kegiatan sehari ataupun cap tangan. Juga berupa rumah – rumah panggung di tepi pantai, dengan bukti – bukti seperti yang ditemukan di pantai Sumatera Timur berupa bukit – bukit kerang (Kjokkenmodinger) sebagai sisa – sisa sampah dapur para nelayan
Kemudian zaman Neolithik, manusia sudah bisa bercocok tanah dan berternak (food producting) serta bertempat tinggal tinggal di rumah – rumah kayu. Pada megalitik banyak menghasilkan bangunan – bangunan dari batu yang berukuran besar untuk keperluan upacara agama, seperti punden, dolmen, sarkofag, meja batu dll
  b. Seni Patung
Seni patung berkembang pada zaman Neolitik, berupa patung – patung nenek moyang dan patung penolak bala, bergaya non realistis, terbuat dari kayu atau batu. Kemudian pada masa megalithik banyak ditemukan patung – patung berukuran besar bergaya statis monumental dan dinamis piktural.
c. Seni Lukis
Dari zaman Mesolithik ditemukan lukisan – lukisan yang dibuat pada dinding gua seperti lukisan goa di Sulawesi Selatan dan Pantai Selatan Irian Jaya. Tujuan lukisan untuk keperluan magis dan ritual, seperti adegan perburuan binatang lambang nenek moyang dan cap jari. Kemudian pada zaman neolithik dan megalithik, lukisan diterapkan pada bangunan – bangunan dan benda – benda kerajinan sebagai hiasan ornamentik (motif geometris atau motif perlambang).

Lukisan di dinding Ceruk Ida Malangi, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara

d. Seni Kriya
KRIYA SENI, KELAHIRAN DAN EKSISTENSINYA Ahmad BahrudinAbstrak: Kriya atau sering disebut dengan kerajinan dan dalam bahasa inggrisnya disebut dengan nama craft, pada mulanya diciptakan sesuai dengan kebutuhan pada zamannya, yaitu sebegai pemenuhan kebutuhan religi/beribadah pada lampau, dan kriya berkembang tidak lagi sebagai pemenuhan kebutuhan religi tetapi sebagai pemenuhan kebutuhan pokok manusia, pada umunya memiliki fungsi praktis/applied art pada masyarakat, maka kriya sekarang ini sudah mencerminkan perubahan-perubahan dari masa lalu. Perubahan itu tidak lepas dari pengaruh berbagai aspek dari waktu ke waktu seiring dengan kemajuan zaman yang sangat cepat. Sehingga muncul dua istilah dalam kriya yaitu istilah seni kriya dan istilah kriya seni, seni kriya bersifat pada pemenuhan kehidupan sehari-hari dan memiliki fungsi praktis, sedangkan kriya seni muncul karena adanya keinginan kriyawan untuk menambahkan ekspresi dalam karya kriyanya, sehingga lahir karya-karya kriya yang lebih menekankan pada nilai.

B. Seni Rupa Klasik
Pada galibnya suatu zaman dalam sejarah kebudayaan sesuatu bangsa dinamakan Klasik apabila mempunyai dua ciri:
1.    Masyarakat manusia dalam zaman itu telah menghasilkan tonggak-tonggak peradaban pertama yang akan menjadi dasar perkembangan peradaban selanjutnya di masa yang lebih kemudian, misalnya (mulai digunakan tulisan, sistem kalender, sistem kerajaan, konsep kepahlawanan, mitologi dewa-dewa, dan lainnya lagi).
2.      Banyak kaidah, aturan, konsep atau norma budaya yang berkembang dalam zaman tersebut terus saja digunakan hingga masa sekarang, jadi di zaman sekarang seringkali masih mengacu kaidah lama yang pernah berkembang sebelumnya di zaman awal kegemilangan peradaban bangsa tersebut. Bagi bangsa Indonesia, zaman Klasik yang sesuai dengan kedua syarat  tersebut adalah masa perkembangan agama Hindu-Buddha di Nusantara, oleh karena itu masa Hindu-Buddha kemudian dinamakan zaman Klasik Indonesia.

Berdasarkan  berbagai tinggalan arkeologisnya, zaman klasik dibagi menjadi dua periode, yaitu (a) zaman Klasik Tua yang berkembang antara abad ke-8—10 M, dan (b) zaman Klasik Muda berkembang antara abad ke-11—15 M. Kedua zaman itu berkembang di berbagai wilayah Indonesia, termasuk di Sumatera dan Bali, namun banyak bukti arkeologi dalam zaman Klasik Tua didapatkan di wilayah Jawa bagian tengah, oleh karena itu terdapat kepustakaan yang menyatakan agak keliru dengan sebutan “Zaman Jawa Tengah”. Adapun untuk zaman Klasik Muda disebut juga secara keliru dengan “Zaman Jawa Timur”, berhubung banyaknya temuan arkeologi dari abad ke-11—15 (sebenarnya baru mulai banyak sejak abad ke-13) yang terdapat di wilayah Jawa bagian timur. Justru pembagian zaman Klasik yang didasarkan kepada kronologi tersebut untuk memperluas cakupan kajian, jadi tidak melulu bicara tentang tinggalan di Jawa bagian tengah atau timur belaka (Munandar 1995: 108).
Masa sejarah di Indonesia dimulai setelah ditemukannya bukti prasasti-prasasti awal (bertarikh sekitar abad ke-4 M) ditemukan di wilayah Kutai, Kalimantan Timur yang menyebut nama raja Mulawarmman dan Jawa bagian barat yang menyebutkan Kerajaan Tarumanagara dengan rajanya Purnnawarmman. Prasasti-prasasti itu menggunakan aksara Pallava dengan bahasa Sansekerta (Suleiman, 1974: 14—15);  sedangkan nafas keagamaan yang terkandung dalam prasasti-prasasti tersebut bercorak Veda kuno, masih belum memuja Trimurti. Dalam masa sejarah itulah pengaruh kebudayaan India mulai datang dan berkembang secara terbatas di beberapa tempat di Nusantara.
Dalam masa selanjutnya pengaruh kebudayaan India awal yang menularkan ajaran Veda-Brahmana tersebut agaknya  tidak diminati lagi oleh masyarakat. Dengan menghilangnya kerajaan Tarumanagara di Jawa Barat tidak ada kerajaan lainnya yang meneruskan ritual Veda Kuno yang didominasi oleh kaum Brahmana. Alih-alih kerajaan yang muncul kemudian di wilayah Jawa bagian tengah dalam abad ke-8 M bernafaskan Hindu Trimurti. Kerajaan itu adalah Mataram Kuno yang mengeluarkan Prasasti Canggal dalam tahun 732 M, dalam prasasti itu dinyatakan nama raja yang menitahkan penerbitan prasasti, yaitu Sanjaya. Nafas keagamaan yang cukup kentara dalam prasasti adalah Hindu-saiva, karena bait-baitnya banyak memuliakan Siva Mahadeva (Poerbatjaraka 1952: 53—55).
Bersamaan dengan masuknya pengaruh Hindu-saiwa, dalam masa yang hampir bersamaan datang pula pengaruh agama Buddha dari aliran Mahasanghika (Mahayana) ke tengah-tengah masyarakat Jawa Kuno. Dengan demikian di Jawa bagian tengah antara abad ke-8—10 M berkembang 2 agama besar, yaitu Hindu-saiwa dan Buddha Mahayana yang beraasal dari Tanah India. Dalam perkembangannya itu banyak dihasilkan berbagai bentuk kesenian, seni yang masih bertahan hingga sekarang adalah bukti-bukti seni rupa yang berupa arca dan relief serta dan kemajuan karya arsitektur bangunan suci. Demikianlah risalah singkat ini memperbincangkan perihal zaman Klasik Tua yang berkembang di wilayah Jawa bagian tengah, bukan di wilayah lainnya di Indonesia. Bukti arkeologis yang akan dijadikan data, adalah penggambaran relief dan arca-arca dewa, baik yang dikembangkan dalam lingkup kebudayaan India, dan juga arca dan relief yang dihasilkan oleh kebudayaan Klasik Tua di masa Jawa kuno di Jawa tengah.
  

Salah satu bagian relief dari Candi Borobudur

Pada patung Hindu-Budha, ragam hias yang paling umum digunakan adalah padma teratai. Padmamelambangkan tempat duduk dewa tertinggi, terbentuknya alam semesta, kelahiran Budha, kebenaran utama, tempat kekuatan hayati dan suci bagi kaum Yogin), serta rasa kasih. Bentuk hias yang lain adalh swastika (melambangkan daya dan keselarasan agad raya), kalamakara (terdiri dari kala yang melambangkan waktu, dan makaramalambangkan makhluk seperti buaya), serta kinnara yang berwujud setengah manusia dan burung (anggota dari kelompok dewa penghuni langit).
Pengaruh zaman Hindu-Budha dalam bidang seni rupa sangat kental dalam bidang arsitektur, khususnya arsitektur pada bangunan candi. Candi di Indonesia dibedakan menjadi candi Hindu dan candi Budha.
a)      Candi Hindu
Arsitektur candi Hindu Indonesia memiliki gaya yang sama dengan India Selatan. Candi Syiwa Lara Jonggrang di Jawa Tengah, misalnya. Candi tersebut melukiskan penafsiran setempat yang terperinci mengenai tempat pemujaan agama Hindu yang menunjukkan ciri Syiwaisme.
b)     Candi Budha
Bangunan candi Borobudur, tidak ada hubungan gaya dengan India. Borobudur terdiri atas sepuluh tingkat konsentris. Enam tingkat paling bawah dirancang sebuah bidang persegi, sementara empat tingkat di atasnya merupakan stupa utama berbentuk lingkaran.

C. Seni Rupa Islam
Seni rupa Islam adalah seni rupa yang berkembang pada masa lahir hingga akhir masa keemasan Islam. Rentang ini bisa didefinisikan meliputi Jazirah Arab, Afrika Utara, Timur Tengah, dan Eropa sejak mulai munculnya Islam pada 571 M hingga mulai mundurnya kekuasaan Turki Ottoman. Walaupun sebenarnya Islam dan keseniannya tersebar jauh lebih luas daripada itu dan tetap bertahan hingga sekarang.
Seni rupa Islam adalah suatu bahasan yang khas dengan prinsip seni rupa yang memiliki kekhususan jika dibandingkan dengan seni rupa yang dikenal pada masa ini. Tetapi perannya sendiri cukup besar di dalam perkembangan seni rupa modern. Antara lain dalam pemunculan unsur kontemporer seperti abstraksi dan filsafat keindahan. Seni rupa Islam juga memunculkan inspirasi pengolahan kaligrafi menjadi motif hias. Dekorasi di seni rupa Islam lebih banyak untuk menutupi sifat asli medium arsitektur daripada yang banyak ditemukan pada masa ini, perabotan. Dekorasi ini dikenal dengan istilah arabesque.
Pengaruh Islam terhadap seni Indonesia merupakan hasil perdagangan yang dimulai sejak abd ke-11. Para pedagang dari Gujarat, India, membangun permukiman di sepanjang Pantai Timur Sumatra dan Aceh. Selanjutnya pusat-pusat kebudayaan Islam dibangun secara bertahap di Demak dan Jepara.
Pengaruh kebudayaan Islam terhadap seni rupa antara lain sebagai berikut.
a)      Pahatan Kubur dan Masjid
Beberapa makam islam paling tua menggunakan nisan bergaya Islam. Batu nisan gaya Gujarat ditemukan di Samudera Pasai (Aceh Utara) dan Gresik. Arsitektur masjid Indonesia pun berbeda dengan yang ditemukan di negara Islam lainnya. Masjid lama dibangun dengan mengikuti prinsip dasar bangunan kayu, dan disertai dengan pembangunan pendapa di bagian depan.
Selain itu juga memiliki atap tumpang yang memberikan ventilasi, dan disangga oleh deretan tiang kayu. Masjid-masjid tersebut terdapat di Cirebon, Banten, Demak, dan Kudus. Bagian dalamnya dihiasi pola bunga, satwa, dan bangun berulang. Letak piring-piring China, Vietnam, dan Thailand digunakanuntuk menyamakan lantai berwarna yang ditemukan di masjid Timur Tengah dan Moghul, India.

b)     Kaligrafi
Kaligrafi Islam, khususnya kaligrafi Arab, merupakan unsur penting dalam seni hias Islam. Begitu pula dengan seni kaligrafi Indonesia, sebagian besar mendapat pengaruh dari seni kaligrafi Arab. Benda-benda upacara yang ada di istana-istana, seperti belati, tombak, pedang, dan panji-panji sering dihiasi kaligrafi. Selain itu, hiasan kaligrafi juga nampak pada lukisan kaca dan ukiran kayu pada dinding istana. Tokoh wayang juga ada yang dihiasi oleh ragam hias kaligrafi untuk menyamarkan bentuk manusianya.

D. Seni Rupa Modern
Seni Rupa Modern adalah suatu karya seni rupa yang merupakan hasil kreativitas untuk menciptakan karya yang baru atau dengan kata lain karya seni rupa pembaruan. Kreativitas dalam seni rupa di dalamnya terdapat estetika, karakter, inovasi, dan originalitas.
Peirode Perintis (1826-1880),  perkembangannya diawali oleh pelukis Raden Saleh. Berkat pengalamannya belajar menggambar dan melukis di luar negeri seperti di Belanda, Jerman, Perancis, beliau dapat merintis kemunculan seni rupa Modern di Indonesia. Corak lukisannya beraliran Romantis dan Naturalis. Aliran Romantisnya menampilkan karya-karya yang berceritera dahsyat, penuh kegetiran seperti tentang perkelahian dengan binatang buas. Gaya Naturalisnya sangat jelas nampak dalam melukis potret.

          

Merapi” karya Raden Saleh

Peiode Indonesia Jelita, masa ini merupakan kelanjutan dari masa perintisan setelah pakum beberapa saat karena meninggalnya Raden Saleh. Kemudian munculah seniman Abdullah Surio Subroto dan diikuti oleh anak-anaknya, Sujono Abdullah, Basuki Abdullah dan Trijoto Abdullah. Pelukis-pelukis Indonesia yang lain seperti Pirngadi, Henk Ngantung, Suyono, Suharyo, Wakidi, dll.
Masa ini disebut dengan masa Indonesia Jelita karena pelukisnya melukiskan tentang kemolekan/keindahan obyek alam. Pelukis hanya mengandalkan teknik dan bahan saja. Karya Abdullah SR. (Pemandangan di sekitar Gn. Merapi, Pemandangan di Jawa Tengah, Dataran Tinggi di Bandung), karya Pirngadi (Pelabuhan Ratu), karya Basuki Abdullah (Telanjang, Pemandangan, Gadis sederhana, Pantai Flores, Gadis Bali, dll.)
Periode Persagi, pada masa ini di Indonesia sedang terjadi pergolakan. Bangsa Indonesia berjuang untuk mendapatkan hak yang sejajar dengan bangsa-bangsa lain, terutama hak untuk merdeka dari penjajahan asing. Pergolakan di segala bidang pun terjadi, seperti dalam bidang kesenian yang berusaha mencari ciri khas Indonesia. Pelopor masa ini yang dikenal memilki semangat tinggi adalah S. Sdjojono, ia tidak puas dengan kehidupan seni rupa Jelita yang serba indah, karena dianggap bertolak belakang dengan kejadian yang melanda bangsa Indonesia.
Sebagai langkah perjuangannya maka S. Sudjojono dan Agus Jayasuminta bersama kawan-kawannya mendirikan PERSAGI (Persatuan Ahli-ahli Gambar Indonesia). Persagi bertujuan untuk mengembangkan seni lukis di Indonesia dengan mencari corak Indonesia asli. Konsep persagi itu sendiri adalah semangat dan keberanian, bukan sekedar kecakapan melukis melainkan melukis dengan tumpahan jiwa. Karya-karya S. Sudjojono (Di depan kelambu terbuka, Cap Go Meh, Jongkatan, Bunga kamboja), karya Agus Jayasuminta (Barata Yudha, Arjuna wiwaha, Dalam Taman Nirwana), karya Otto Jaya (Penggodaan, Wanita impian).
Peiode Pendudukan Jepang, kegiatan melukis pada masa ini dilakukan dalam kelompok Keimin Bunka Shidoso. Tujuannya adalah untuk propaganda pembentukan kekaisaran Asia Timur Raya. Kelompok ini didirikan oleh tentara Dai Nippon dan diawasi oleh seniman Indonesia, Agus Jayasuminta, Otto Jaya, Subanto, Trubus, Henk Ngantung, dll. Untuk kelompok asli Indonesia berdiri kelompok PUTRA (Pusat Tenaga Rakyat), tokoh-tokoh yang mendirikan kelompok ini adalah tokoh empat serangkai yaitu Ir. Sukarno, Moh. Hatta, KH. Dewantara dan KH. Mas Mansyur.
Khusus yang menangani bidang seni lukis adalah S. Sudjojono dan Affandi. Pelukis yang ikut bergabung dalam Putra diantaranya Hendra Gunawan, Sudarso, Barli, Wahdi, dll. Pada masa ini para seniman memiliki kesempatan untuk berpameran, seperti pameran karya dari Basuki Abdullah, Affandi, Nyoman Ngedon, Hendra Gunawan, Henk Ngantung, Otto Jaya, dll.
Periode Akademi (1950), Pengembangan seni rupa melalui pendidikan formal. Lembaga Pendidikan yang bernama ASRI yang berdiri tahun 1948 kemudiaan secara formal tahun 1950 Lembaga tersebut mulai membuat rumusan-rumusan untuk mencetak seniman-seniman dan calon guru gambar. Pada tahun 1959 di Bandung dibuka jurusan Seni Rupa ITB, kemudian dibuka jurusan seni rupa disemua IKIP diseluruh Indonesia.
Periode Seni Rupa Baru, pada sekitar tahun 1974 muncul kelompok baru dalam seni lukis. Kelompok ini menampilkan corak baru dalam seni lukis Indonesia yang membebaskan diri dari batasan-batasan seni rupa yang telah ada. Konsep kelompok ini adalah: (1) Tidak membedakan disiplin seni; (2) Menghilangkan sikap seseorang dalam mengkhususkan penciptaan seni; (3) Mendambakan kreatifitas baru; (4) Membebaskan diri dari batasan-batasan yang sudah mapan; (5) Bersifat eksperimental.

Kamis, 08 Mei 2014

OKO MAMA ( Bianglala Rupa Flobamorata ) 22 April - 3 Mei 2014 Taman Budaya Kupang - NTT

     OKO MAMA



Oleh :Kuss Indarto 

Ide bahwa seniman harus membuat lukisan untuk ekspresi pribadi melulu tanpa ambil pusing orang lain, sebetulnya adalah ide baru. Banyak seniman yang suka menggemborkan ide ini ternyata juga suka lain di mulut lain dalam tindakan. Henry Moore juga bersedia disuruh Universitas Chicago membuat patung Bom-Atom-Meledak di kampus (di mana atom untuk pertama kalinya meledak). …Mutu seni tidak ditentukan oleh siapa yang mulai kerja seni itu. Demikian pula dengan kreativitas. Yang mulai bisa seniman sendiri, bisa pemesan. Yang mengatur bentuk dan isi seni bisa seniman sendiri bisa pemesan, bisa masyarakat, bisa adat, bisa agama, bisa ideologi, bisa politik.
  (Sudjoko, Majalah Budaya Jaya, No.08, Tahun Ke-8, Februari 1975)


/Satu/

SEPERTI halnya kawasan lain di Indonesia, selama ini propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) lebih banyak diposisikan sebagai objek seni rupa, belum kuat sebagai subjek seni rupa. Asumsi tersebut memberi tengara bahwa kawasan ini belum memainkan peran yang relatif penting dalam memberdayakan dirinya, mengeksplorasi berbagai sumber daya—termasuk seniman yang ada di dalamnya sebagai nilai tambah (additional value), untuk berperan di garis penting dan depan dalam peta seni rupa (di Indonesia). Andaikan saya pribadi—yang berjarak cukup jauh secara geografis dengan NTT—berusaha membincangkannya, belum banyak acuan dan fakta yang bisa diserap (sebagai material), apalagi dalam ketergesaan dan keterbatasan waktu sehingga bisa berpotensi seperti ungkapan “pelancong menangkap yang bodong, peneliti menangkap nilai yang hakiki”. Kondisi seperti ini, tampaknya, masih berlangsung hingga sekarang. Inilah yang menggiring asumsi “standar” bahwa masih ada “pusat seni rupa” dan “bukan pusat”—meski anggapan ini ditolak oleh kurator Mamannoor (almarhum) dengan menghindari terminologi tersebut dan menggesernya dengan sebutan “kawasan”: seni rupa kawasan Yogyakarta, seni rupa kawasan Kupang, seni rupa kawasan Ambon, dan sebagainya.

Apapun, kalau mencoba melompat jauh ke sejarah di belakang, memang, ada yang bisa ditimba dan diperbincangkan sebagai sedikit bekal awal—tentang posisi sebagai objek itu. Dalam kilasan sejarah dapat disimak beberapa fakta sebagai salah satu titik acuan. Misalnya, seperti yang dicatat oleh sejarawan Bernard Dorleans dalam buku Orang Indonesia dan Orang Prancis: Dari Abad XVI sampai dengan Abad XX (2006), yang disinggung bahwa pada tanggal 21 September 1801, dua kapal dengan bendera Prancis bernama Geographe dan Naturaliste, mendarat di pelabuhan Kupang, pulau Timor. Rombongan dalam kapal itu terdiri dari para ahli di bidang astronomi, geografi, kelautan zoologi, botani, dan ilustrator. Setelah berbulan-bulan melakukan penelitian, mereka menghasilkan banyak catatan dan artefak temuan, juga karya-karya ilustrasi dengan kualitas mengagumkan untuk kepentingan bidang etnologi dan antropologi. Ilustrasi itu dibuat oleh Alexandre Lesueur dan Nicolas Petit. Karya-karya tersebut hingga kini masih tersimpan dan terawat di Museum Le Havre, Prancis. Artefak serupa diduga juga dibuat oleh bangsa lain seperti Portugis, Spanyol serta Belanda yang lebih dulu mendarat dan berdiam lebih lama di kawasan NTT, meski banyak dipahami bahwa mereka mengawali kedatangannya untuk kepentingan berniaga, penyebaran agama, dan kemudian melakukan kolonisasi—mulai dari mengeksploitasi sumber daya alam hingga praktik perbudakan.

Contoh lain perihal seni rupa dan kaitannya dengan NTT adalah kisah salah satu proklamator republik ini, yakni Ir. Soekarno, yang diasingkan bersama keluarganya oleh pemerintah kolonial Belanda di kota Ende, Solor atau Flores. Dalam masa pembuangan antara tahun 1934 hingga 1938 tersebut Putera Sang Fajar ini punya beberapa aktivitas, di antaranya mendirikan kelompok sandiwara bernama “Kelimutu” dan melukis—di samping aktivitas pergerakan serta intelektual lain hingga menemukan gagasan awal tentang Pancasila. Pada kurun waktu itu dia menulis dan mementaskan dua belas lakon sandiwara, serta menuntaskan sekitar 10 karya lukisan. Dua karya lukisan cat air yang cukup populer itu berjudul Kampung Ambugaga, diperkirakan dibuat tahun 1936-1938, lalu Pantai Flores, berukuran 44 x 60 cm (sekitar 1934-1937), dan lukisan cat minyak bertajuk Upacara Sesajen di Bali yang dikerjakan antara tahun 1934-1935 (Djuli Djati Prambudi, Bung Karno, Seni Rupa, dan Karya Lukisnya, 2001, dan Mikke Susanto, Bung Karno, Kolektor dan Patron Seni Rupa Indonesia, 2014). Karya-karya lukis yang disebut itu sampai sekarang masih ada dan dikoleksi secara pribadi (oleh kolektor non-negara) di Jakarta dan Surabaya.

Sementara di seberang itu, fakta dan pencapaian yang ada di kawasan tersebut, tentu, tak bisa dikesampingkan, seperti karya-karya kultural semisal tenun ikat, buna, lotis, dan lainnya—yang telah berlangsung berabad-abad. Untuk konteks kali ini kita belum diperbincangkan lebih jauh, meski karya-karya tersebut mengiringi dan memberi spirit bagi karya-karya yang lahir pada konteks waktu yang lebih baru di NTT.

/Dua/

Kalau kita melesatkan pandangan untuk menyimak upaya gerak dan perkembangan seni rupa di Nusa Tenggara Timur yang mencoba melepaskan diri dari penjara posisi sebagai objek, pameran “Cahaya dari Timur” bisa menjadi salah satu penanda penting. Pameran itu berlangsung di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), 25-30 Mei 2013, dihelat oleh Taman Budaya NTT dengan melibatkan 13 seniman yang sebagian besar tinggal dan berproses kreatif di kawasan NTT. Beberapa hal bisa diajukan sebagai pembacaan atas perhelatan tersebut. Pertama, dalam relasi subjek-objek seperti yang disinggung pada bagian awal catatan ini, maka perhelatan tersebut justru berisiko mempertontonkan dengan cukup utuh posisi kawasan ini sebagai objek. Tak pelak, dengan mengambil Yogyakarta sebagai situs untuk berpameran, kesadaran adanya titik “pusat” dan “bukan pusat” masih kuat mengemuka. Dan pihak yang “bukan pusat” seperti berusaha keras untuk merangsek masuk di pusaran “pusat” untuk merebut perhatian. Kedua, mengacu pada poin pertama, upaya merebut perhatian dengan masuk ke “pusat” itu memberi sinyal kuat bahwa masih kuatnya ketimpangan dalam bangunan sistem produksi-mediasi-apresiasi di seni rupa pada kawasan NTT (dan banyak kawasan lain). Saya bisa menduga begitu minimalnya kondisi infrastruktur dan infrastruktur seni rupa di sini sehingga para “produsen kreatif” masih terbatas jumlah dan mutunya, ruang-ruang mediasi masih tercekat oleh banyak kendala, sehingga potensi ruang apresiasi belum meluas seperti diharapkan. Maka, adanya poin pertama di atas (yakni berpameran di Yogyakarta) memang pantas dimaklumi. Ketiga, kalau terminologi “pusat” dan “bukan pusat” itu diandaikan dalam konteks geopolitik Indonesia, maka kehadiran pameran tersebut relatif penting untuk menandai terbangunnya interkoneksi antar-kawasan, seperti relasi NTT dan D.I. Yogyakarta tersebut. Ini justru berseberangan dengan praduga pada poin pertama.

Lalu, kalau sekarang ada program yang berkebalikan dari pameran “Cahaya dari Timur” tahun 2013, yakni ketika Galeri Nasional Indonesia (GNI) menyambangi Kupang/NTT lewat program Pameran Keliling Karya-karya Koleksi Terpilih GNI, apa yang bisa dimaknai? Ini menarik karena, pertama, kalau mencoba mengaitkan kembali “pusat” dan “bukan pusat” dalam konteks geopolitik, maka hal yang sedang digagas adalah upaya penyandingan antara “pusat” dan bukan pusat” dengan konsep kesetaraan/egaliter, bukan ordinat dan subordinat, atau patron dan klien. Di sini ada sekian puluh karya koleksi GNI dan karya kreasi seniman NTT yang dihadirkan dalam satu ruang dan momentum dalam satu bingkai kuratorial. Kedua, meski terkesan seremonial, namun momentum pameran ini memberi pengharapan pada gairah pertumbuhan kreatif para seniman dan apresian seni di kawasan ini. Maka, ini juga merupakan forum penjajagan akan kebutuhan seniman dan publik seni di sini.

Tajuk kuratorial ini, Okomama: Bianglala Rupa Flobamorata, memiliki tendensi kuat untuk menjadikan momentum sekaligus forum ini sebagai kesempatan melakukan penguatan ruang-ruang kultural dalam masyarakat lewat jalur seni rupa. Kita bisa mengandaikan bahwa pameran ini serupa okomama, tempat menyimpan kapur, sirih, pinang, gambir dan material lain. Dari semangat okomama kita bisa menyatukan spirit kebersamaan atas keberbedaan, berhimpun dalam kesatuan untuk menguatkan sisi kelemahan dan kekurangan. Ada makna filosofis yang ingin kami ajukan di sini bahwa pameran ini diandaikan sebagai ajang bertemunya segenap perbedaan untuk dileburkan dalam satuan yang konstruktif dan inspiratif.

Dengan fakta atas kondisi geografis yang ada: NTT memiliki 1.192 pulau, 473 di antaranya telah bernama, dan 42 buah pulau berpenghuni, serta 3.227.660 hektar atau seluas 56,4% merupakan tanah yang tidak cocok untuk pertanian karena kemiringan yang tajam dan kritis (Munandjar Widyatmika, Cendana dan Dinamika Masyarakat Nusa Tengara Timur, 2014), maka kita bisa membayangkan betapa pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan, khususnya seni rupa, mempunyai tantangan yang tidak mudah, spesifik dan tentu sangat berbeda dibanding kawasan lain. Inilah gunung realitas yang bisa dibaca dan diurai sebagai titik persoalan berikut kemungkinan pencarian solusinya.

Dibanding program Pameran Keliling Karya Koleksi Terpilih GNI sebelumnya, pada perhelatan di Kupang ini ada sedikit perbedaan—bahkan keistimewaan. Lazimnya, kami membawa karya-karya seniman old master yang menjadi koleksi kami, seperti karya Affandi, S. Soedjojono, Fadjar Sidik, Srihadi Soedarsono, Nashar, Basoeki Abdullah, dan lainnya. Namun pada kesempatan ini, untuk pertama kalinya, kami juga membawa karya pilihan GNI dari seniman mancanegara. Ada empat karya yang kami bawa, yakni karya-karya seni grafis yang dikreasi oleh (1) Anna-Eva Bergman, (tanpa judul), 1958, cukil kayu, 44x70 cm, (2) Sonia Delaunay, (tanpa judul), 1957, litografi, 70 x 49,5 cm, (3) Hans Hartung, (tanpa judul), lithografi, 55,5 x 76 cm, dan (4) karya Hans Arp, (tanpa judul & tahun), litografi, 50x38 cm. Para seniman ini adalah deretan nama penting dalam dunia seni grafis (printmaking) dan seni rupa dunia, khususnya di Prancis, pada kurun dasawarsa 1950-an. Karya-karya itu adalah hibah dari para seniman dunia tersebut yang dengan sukarela memberikannya pada KBRI Prancis tahun 1959—lewat Atase Pers (merangkap urusan kebudayaan), Ilen Surianegara. Penyerahan karya tersebut merupakan respons seniman setelah mengemukanya gagasan Presiden Sukarno yang berhasrat membangun museum seni rupa kontemporer di Indonesia tahun 1959. Sayang, gagasan besar Bung Karno itu belum kunjung terwujud hingga kini.

Untuk pertama kalinya juga kami membawa koleksi lukisan karya anak, Labiqog Az-Zahroh, berjudul “Topeng-topeng” (akrilik di atas kertas, 90 x 90 cm) yang dikoleksi GNI tahun 2010 saat anak asal Malang, Jawa Timur tersebut berusia 9 tahun.

/Tiga/

Pameran Okomama: Bianglala Rupa Flobamorata ini mengetengahkan sekitar 20-an karya dari para perupa/seniman dari kawasan Nusa Tenggara Timur yang bersanding dengan 20 karya pilihan koleksi dari Galeri Nasional Indonesia. Tentu tak akan mungkin mampu menghimpun sekian banyak potensi seniman dengan menampilkan representasi tiap pulau besar, tiap kabupaten, atau berdasar pilahan kawasan geografis tertentu. Sangat tidak mudah untuk dipenuhi. Namun, dari materi dan seniman yang bisa dihadirkan ini, serentetan pertanyaan klasik bisa mengemuka: pola representasi macam apakah yang bisa dibaca dari pameran ini? Apakah yang bisa dibawa dalam presentasi karya ini bila para perupa Nusa Tenggara Timur ini diasumsikan menjadi pengisi garda depan seni rupa di kawasannya? Ekspektasi apa yang bisa ditangguk dari perhelatan semacam ini?

Beberapa dugaan bisa saya kemukakan. Pertama, memberi kemungkinan pada perhelatan ini agar difungsikan sebagai kerangka (awal atau dasar) dalam melakukan pemetaan atas progres kreatif para (calon) seniman di beberapa kawasan di Nusa Tenggara Timur. Poin pertama ini, tak pelak, kemudian bisa pula diresepsi bahwa pameran Okomama: Bianglala Rupa Flobamorata, dalam gradasi tertentu, bisa menjadi forum untuk membaca kemungkinan terbukanya “kaderisasi”, “regenerasi”, atau apapun istilah yang telah usang dan diasumsikan “modernis” itu. Dalam kalimat dan perspektif yang lebih menukik, saya kira, ini bisa diasumsikan sebagai talent scouting event (perhelatan untuk pemanduan bakat). Sebuah kalimat yang semoga tidak dipahami secara keliru dan reduktif sebagai pengingkaran terhadap beberapa seniman yang relatif telah menjadi “bintang” yang sudah mulai berkemilau dan terlibat dalam pameran ini.

Berikutnya, dugaan kedua, pameran ini sedikit banyak juga berlaku untuk melakukan pelacakan atas progres lembaga pendidikan seni dalam memberi kontribusi terhadap praktik kreatif dan kognitif di wilayah ini dimana para seniman yang terlibat di dalamnya berasal, berproses, dan berupaya melakukan pembaruan demi perkembangan kreatif mereka. Ini realitas yang tak dapat ditampik karena dewasa ini penghuni kanvas seni rupa Indonesia nyaris selalu didominasi oleh perupa yang berasal dari dunia akademik. Namun, uniknya, peta diskursus ihwal seni rupa justru tidak selalu—bahkan jarang—muncul dari kampus. Kondisi faktual yang terjadi di Nusa Tenggara Timur saya kira juga menunjukkan hal yang kurang lebih sama, yakni ketika para seniman non-akademis diduga juga melakukan aktivitas yang rutin, progresif, sehingga turut mewarnai perkembangan seni rupa di kawasan dimana dia berada.

Sudah barang pasti bahwa publik tidak menutup fakta bahwa dunia akademis sudah sangat gencar, organik, dan secara massif turut memberi sumbangan yang besar bagi perkembangan yang terjadi. Masalahnya, perlu terus memberi alat ukur yang memadai dan didinamisasikan terus-menerus agar mampu mengejar dan mengimbangi perkembangan zaman. Dugaan di poin ini sebenarnya saya rasakan cukup “sembrono” karena lembaga pendidikan (khusus) seni rupa di NTT kalau tak salah belum ada. Baru ada di bidang humaniora, sastra dan disain komunikasi yang relatif agak berdekatan kompetensinya.

Perhelatan ini juga—sebagai dugaan ketiga—kiranya mampu dijadikan sebagai “perangkat” untuk memeriksa kembali kontinuitas gairah kreatif yang bersinggungan dengan gairah akan kesadaran sosial dalam kanvas seorang seniman (muda). Saya kira ini akan bersangkut-paut dengan dua hal penting: sensibilitas seniman dalam bersikap terhadap persoalan kemasyarakatan di seputarnya, dan intelektualias seniman dalam membaca tiap geliat dinamika dunia pemikiran di sekelilingnya. Ini menyangkut dunia gagasan yang diterakan seniman dalam kanvasnya sebagai bagian dari artifak pemikiran. Terus terang, poin ini masih lebih sebagai ekspektasi, karena kalau menyimak pada realitas karya, banyak seniman yang masih lebih banyak mengedepankan dunia bentuk dengan segala kompleksitas teknis dan eksplorasinya – ketimbang dunia gagasannya. Konsep dan bayangan tentang kemungkinan munculnya karya yang memuat gagasan ekstra-estetika atau di luar problem kebentukan dan dimensi artistik yang melingkupi, relatif masih sulit ditemukan. (Simak kegundahan soal ini pada catatan “Bianglala Asa Perupa Flobamorata” yang ditulis oleh Yohanes K.N. (Yopie) Liliweri di katalog ini).

/Empat/

Perhelatan pameran Okomama: Bianglala Rupa Flobamorata ini, bagi pihak Galeri Nasional Indonesia (GNI), memiliki makna penting karena menyangkut banyak hal, antara lain menjadikannya sebagai ruang untuk memediasikan dan mendistribusikan misi dan visi GNI. Wajah GNI sendiri memiliki karakter ganda: di satu pihak merupakan lembaga yang dengan karakter museum yang mengumpulkan koleksi karya seni berikut aktivitasnya. Sementara di sisi lain memiliki karakter galeri yang mengakomodasi aktivitas seni rupa seperti pameran, seminar, yang memuat dimensi kebaruan, aktualitas dan dinamisasinya.

Galeri Nasional Indonesia sendiri didisain sebagai lembaga kebudayaan dengan diawali lewat pendirian Wisma Seni Nasional. Gagasan tersebut akhirnya terus berkembang sebagai Pusat Pengembangan Kebudayaan, yang sebagian baru diwujudkan dengan pembangunan Gedung Pameran Seni Rupa Departeman Pendidikan dan Kebudayaan pada tanggal 23 Februari 1987 sebagai ruang dan sarana aktivitas seni rupa. Setelah diperjuangkan secara intensif sejak tahun 1995, akhirnya Galeri Nasional Indonesia terealisasi pendiriannya pada tanggal 8 Mei 1998 di Jakarta, dan secara formal setahun kemudian fungsi barunya mulai dipergunakan.

Lembaga ini dihasratkan memiliki tugas untuk melaksanakan tugas-tugas pengumpulan, pendokumentasian, registrasi, penelitian, pemeliharaan, perawatan, pengamanan, penyajian, penyebarluasan informasi, dan bimbingan edukatif tentang karya seni rupa Indonesia, atau karya-karya seni rupa dari seniman asing yang telah dikoleksi oleh GNI. Hingga saat ini, Galeri Nasional Indonesia memiliki kurang lebih 1.600 karya koleksi dari para seniman Indonesia dan mancanegara. Koleksi tersebut merupakan karya-karya para seniman dari lintasan sejarah seni rupa masa lalu hingga kini. Mulai dari karya Raden Saleh Sjarief Boestaman, Hendra Gunawan, Affandi, S. Sudjojono, Basuki Abdullah, Barli Sasmitawinata, Trubus, Sujana Kerton, Popo Iskandar, Wakidi, Bagong Kussudiardjo, Fadjar Sidik, Henk Ngantung, Dede Eri Supria, Ivan Sagita, Agus Kamal, Lucia Hartini, Nyoman Gunarsa, Made Wianta, Iriantine Karnaya, FX. Harsono, Heri Dono, Bonyong Munni Ardhie, dan lainnya. Karya-karya koleksi dari para seniman mancanegara antara lain ada karya Wassily Kandinsky (Rusia), Hans Hartung (Jerman), Victor Vassarely (Hongaria), Sonia Delaunney (Ukraina), Pierre Saulages (Perancis), Zao Wou Kie (China), dan masih banyak lagi lainnya. Karya-karya tersebut merupakan aset bangsa dan negara yang memiliki nilai budaya tinggi serta nilai ekonomi yang terus membubung naik sesuai perkembangan zaman.

Oleh karena itu, ada titik hubung kongruen bila dikaitkan dengan Galeri Nasional Indonesia yang memiliki visi sebagai pusat kegiatan pelestarian dan penyajian kegiatan karya-karya seni rupa yang berorientasi ke depan, dinamis, kreatif, inovatif, dan sebagai wahana mewujudkan masyarakat Indonesia yang berbudaya dan memiliki jati diri di tengah-tengah kehidupan antarbangsa di dunia. Sedangkan misinya adalah melestarikan dan memasyarakatkan karya seni rupa Indonesia dan koleksi GNI. Pihak GNI juga turut mengembangkan kreativitas di kalangan seniman dan apresiasi seni rupa masyarakat, dengan kegiatan dan usaha mengembangkan pemikiran, pandangan, dan tanggapan terhadap karya seni rupa. Selain itu juga berupaya untuk memelihara perluasan cakupan komunikasi kreator dan apresiator. Masih banyak poin penting dari visi dan misi GNI dalam kehadirannya di tengah-tengah masyarakat.

Bukan tidak berlebihanlah bila perhelatan ini diasumsikan memiliki nilai penting bagi masyarakat (seni rupa) untuk turut mengapresiasi lebih jauh. Tentu tidak mungkin membawa serta karya-karya koleksi dngan jumlah yang lebih banyak ke kawasan seperti Kalimantan Barat ini. Namun, betapapun terbatasnya artifak koleksi yang bisa disajikan, ini bisa diharapkan memberi gambaran atas kekayaan dunia seni rupa Indonesia dalam berbagai kilasan waktu yang telah terjadi. Karya-karya tersebut bisa dimungkinkan untuk menjadi jendela tempat menilik perkembangan seni rupa Indonesia dengan berbagai dimensi dan dinamikanya. Kehadiran karya-karya ini juga bisa dimungkinkan untuk ditempatkan sebagai potongan cermin atas realitas sosial yang telah terjadi dan dipindahkan di dalam “realitas estetik” atau “realitas kanvas”. Kerangka serupa juga relatif terjadi pada karya-karya seni rupa yang disajikan leh para seniman Nusa Tenggara Timur dalam perhelatan yang sama. Diharapkan pula perhelatan ini bisa memberi suntikan spirit kreatif bagi para seniman Nusa Tenggara Timur, juga menjadi energi positif bagi masyarakat awam untuk menambah perbendaharaan pengetahuan tentang dunia seni rupa di Indonesia.

Presentasi karya-karya koleksi pilihan Galeri Nasional Indonesia dan karya-karya para seniman Nusa Tenggara Timur ini sudah barang pasti tidak lepas dari kelemahan dan kekurangan. Masih banyak keterbatasan karena berbagai kendala, mulai dari ihwal waktu, kondisi geografis, fakta di lapangan yang kurang bersambung dengan konsep awal, dan sebagainya. Kiranya hal ini tak memberi hambatan bagi progresivitas dunia seni rupa di berbagai daerah, termasuk di Nusa Tenggara Timur. Toh kesempurnaan itu berasal dari koreksi dan pencarian solusi atas kumpulan keterbatasan. ***